Rabu, 15 Juni 2011

Gangguan Jalan Lahir By Endha Blogspot

Distosia oleh kelainan jalan lahir lunak

Uterus terletak ditengah rongga panggul dan dalam anteflexio. Letak yang demikian dipertahankan oleh:

1. Tonus otot rahim

2. Ligament-ligament rahim:

§ Lig.rotundum

§ Lig.cardinale

§ Lig. Sacro uterinum

§ Lig.vesico uterinum

§ Lig.infundibulo pelvicum

3. Otot-otot dasar panggul: terutama m.levator ani.

Secara embriologis uterus , vagina, servik dibentuk dari kedua duktus muller yang dalam pertumbuhan mudigah mengalami proses penyatuan. Kelainan bawaan dapat terjadi akibat gangguan dalam penyatuan, dalam berkembangnya kedua saluran muller dan dalam kanalisasi.

A. KELAINAN KONGENITAL

Kelainan kongenital dibagi menjadi: Uterus didelfis atau uterus duplek, uterus didelfis terjadi apabila kedua saluaran muller berkembang sendiri-sendiri tanpa penyatuan sedikitpun sehingga terdapat 2 saluran telur, 2 servik dan 2 vagina.

Uterus subseptus terdiri atas 1 korpus uteri dengan septum yang tidak lengkap, 1 servik, 1 vagina cavum uteri kanan dan kiri terpisah secara tidak lengkap. Uterus arkuatus hanya mempunyai cekungan di fundus uteri, kelainan ini paling ringan dan sering dijumpai. Uterus bikornis unilateral rudimentarius terdiri atas 1 uterus dan disampingnya terdapat tanduk lain. Uterus unikornis terdiri atas 1 uterus, 1 servik yang berkembang dari satu saluran kanan dan kiri. Kelainan ini dapat menyebabkan abortus, kehamilan ektopik dan kelainan letak janin.

B. KELAINAN LETAK RAHIM

Pada hamil tua, uterus membengkok dengan sumbunya kekanan disebut latero- flexi dekstra. Hal ini tidak menimbulkan gejala, kecuali agak mendesak dan kadang-kadang menekan pada ulu hati.

1. PERUT GANTUNG (Abdomen Pendulum)

Perut gantung dijumpai pada multipara atau grande multipara karena melemahnya dinding rahim. Makin tua kehamilan, uterus makin bertambah kedepan sehingga funduss uteri lebih rendah dari simfisis. Akibatnya terjadi kesalahan letak janin, kepala janin tidak masuk keruang panggul. Proses persalinan akan terganggu, baik pada kala I maupun pada kala II. Namun, bila kepala telah memasuki PAP serta his baik dan kuat, persalinan dapat berlangsung secara biasa, sekurang-kurangnya dapat dibantu dengan ekstraksi vakum atau forsipal.

Selama kehamilan, wanita ini dianjurkan memakai gurita- korset atau ikat perut yang agak ketat dan kencang, yang menyokong perut dari bawah.

2. HYPERANTEFLEXIO

o Jika sumbu rahim membuat sudut sumbu vagina yang membuka kedepan maka dikatakan uterus dalam anteversi.

o Jika terdapat sudut antara sumbu corpus uteri dan serviks yang membuka kedepan disebut anteflexio.

Letak yang normal adalah anteversio flexio tapi sering disebut anteflexio.Hyperanteplexio sering terdapat pada hypoplasia uteri.

3. RETROPLEXIO UTERI

Jika uterus menekur kebelakang disebut retroflexio uteri. Retroplexio uteri dibagi menjadi:

a. Retroflexio Mobilis

Etiologi:

o Kongenital

o Yang bersifat sementara: misalnya kandung kemih penuh.

o Acquisita

- Karena astheni: tonus dari uterus dan ligament-ligamentnya kurang.

- Multiparitas: uterus dan ligment-ligamentnya lemah, terutama dalam puerperium sering terjadi retroflexio uteri karena ligament rotundum direnggang waktu kehamilan dan saat nifas masih panjang.

Gejala-gejala:

- Sering tidak menimbulkan gejala.

- Dapat menimbulkan sakit pinggang, tenesmi ad anum, atau menorrhagi.

Diagnosa:

- Inspekulo dapat dilihat bahwa porsio mendekati dinding depan vagina.

- Pada toucher teraba porsio sebelah depan, corpus uteri teraba dibelakang melalui fornix posterior.

Terapi

Tidak perlu: hanya pada infertilitas atau abortus habitualis perlu dipertimbangkan koreksi.

Retroplexio mobilis=retroflexio uteri gravidi

Jika terjadi kehamilan pada uterus dalam retroflexio, biasanya terjadi koreksi secara spontan. Hanya jika terapat perlekatan-perlekatan atau jika promontorium menonjol maka uterus gravidus tetap dalam retroflexio dan dengan membesarnya uterus akhirnya dapat terjadi retroflexio gravidi incarserata ( setelah minggu ke14).

Gejala:

- Retencio urine atau ischuria paradoxa; keadaan ini dapat menimbulkan cystitis, pyelonephritis dan uremia, sehingga dapat terjadi ruptur kandung kemih.

- Rasa nyeri, tenesmi, dan obtipasi karena tekanan oleh rahim yang membesar.

- Dapat menimbulkan abortus.

Terapi:

- Kandung kemih dikosongkan

- Reposisi manual atau operatif.

b. Retroflexio Uteri Fixata

Etiologi

Peradangan pada pelvis minor seperti perimetritis dan salpingitis tapi juga endometriosis dapat menyebabkan retroflexio uteri fixata.

Gejala

Terutama timbul karena perlekatan.

Diagnosa

- Uterus tidak dapat direposisi.

- Antepositio

- Retropositio

- Sinistropositio

- Dextropositio

- Elevatio uteri

4. PROLAPSUS UTERI (DESCENSUS UTERI)

Etiologi

- Dasar panggul yang lemah karena kerusakan dasar panggul saat partus (ruptur perinei atau regangan) atau karena usia lanjut.

- Retinaculum uteri lemah (astheni, atau kelainan kongenital).

- Tekanan abdominal yang meninggi karena ascites, tumor, batuk yang kronis atu mengejan (obstipatio, atua srictur dari tractus urinarius).

Turunnya uterus dari tempat biasa disebut desensus uteri atau prolap uteri. Terbagi dalam 3 tingkat:

1. Tingkat 1 bila servik belum keluar dari vulva

2. Tingakt 2 bila servik sudah keluar vulva tapi corpus belum

3. Tingkat 3 bila korpus uteri sudah berada di luar vulva

Kehamilan dapat terjadi pada prolap tingkat 1 dan 2.

v Jika dasar panggul rusak tapi retinaculum uteri kuat maka uterus tetap pada tempat tapi dinding vagina menonjol:

Jika diafragma urogenitalis rusak terjadi cystocele, pada ruptur perini terjadi reftocele. Karena dinding vagina menarik porsio terjadi elongatio colli, akhirnya lig. Cardinale juga lemah karena diregang.

v Jika retinaculum lemah (terutama ligament cardinale) maka terjadi discencus uteri, mula-mula tanpa prolapsus vagina. Pada pemeriksaan, dasar panggul cukup kuat.

Gejala

Prolap dapat terjadi secara akut dalam hal ini dapat timbul gejala nyeri yang sangat, muntah dan collaps. Prolaps yang akut jarang terjadi.

Prolaps yang berangsur-angsur menimbulkan gejala:

- Perasaan berat diperut bagian bawah

- Nyeri dipinggang

- Incontinensia urin karena pada cystocele dinding belakang uretra tertarik sehingga faal spingter kurang sempurna.

- Sukar defekasi pada rectocele

- Coitus terganggu

- Flour albus karena bendungan vena dan kolpitis.

- Menorrhagi karena bendungan

- Infertilitas karena servicitis

- Decubitus

Diagnosa

Pada prolaps yang ringan sebaiknya pasien disuruh mengejan jika perlu mengejan sambil berdiri. Karena sering disebabkan kerusakan dasar panggul, vulva dan vagina lebar hingga dapat dengan mudah dimasuki 3 atau 4 jari.

Bentuk-bentuk

- Introitus mengaga(relaxed vaginal outlet); mudah dimasuki 4 jari

- Cystocele: dinding depan vagina, dalam tonjolan ini terdapat dinding belakang kandung kemih. Dapat menimbulkan incontinensia urin.

- Rectocele: dinding belakang vagina menonjol beserta dinding depan ampula recti. Menimbulkan kesukaran pada defekasi.

- Prolaps vagina (tanpa atau dengan descencus uteri).

- Prolaps uteri: portio nampak dalam introitus.

- Prolaps uteri totalis (procidentia): uterus tergantung diluar tubuh, terbungkus oleh vagina yang terputar balik. Pada bentuk ini selaput lendir vagina menebal dan sering terjadi decubitus ulcus,

Propilaksis

- Kandung kemih hendaknya kosng pada waktu partus terutama pada waktu kala pengeluaran.

- Robekan perineum harus dijahit lege artis

- Kala pengeluaran hendaknya jangan terlalu lama supaya dasar panggul tidak terlalu terenggang.

Jika perlu pergunakan episiotomi dan pergunakanlah indikasi waktu.

Terapi

Faktor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan terapi prolaps ialah :

- Keadaan umum

- Usia

- Masih bersuami atau tidak

- Tingkat prolaps

Terapi prolaps dapat terbagi :

a. Operatif

Terapi operatif terutama dilakukan jika penderita tidak akan melahirkan anak lagi.

1. Histerektomi vaginal :histerektomi vaginal sebagai terapi prolaps kita pilih jika terdapat metrorrhagi,patologi portio atau tumor dari aturus.

2. Manchester –Foothergill.

Dasarnya ialah memperpendak lig. Cardimale.

Disamping itu, dasar panggul diperkuat (perineoplastik) dan karena sering ada elongatio colli dilakukan amputasi dari portio.

Cystocelle dan rectocolle dapat diperbiki dengan kolporrhaphia anterior atau posterior.

3. Transposisi operasi dari watkins (inerposisi operasi dari wetheim Schauta).

Prinsipnya adalah menjahit dinding depan uterus pada dinding depan vagina, setelah corpus uteri dilahirkan dengan membuka plica vesico uterine.

Corpus uteri dengan demikian terletak antara dinding vagina dan vesika urinaria dalam hyperanteflexio dan extra peritoneal, uterus yang ingin meluruskan diri menyembuhkan cystocele. Disamping itu dilakukan amputasi portio dan perineoplastik. Jika perlu juga kolporrhaphia anterior dan posterior. Setelah operasi ini, wanita tidak boleh hamil lagi maka sebaiknya dilakukan dalam menopouse.

4. Kolpcleisis (Neugebauer-Le Fort)

Dinding depan dan dinding belakang vagina dijahit satu sama lain sehingga utaerus tidak dapat keluar. Juga dilakukan perineoplastik. Coitus tidak mungkin lagi dilakukan setelah operasi ini.

b. Non operatif

Dengan menggunakan pessarium dari ebonit porselen atau karet. Pessarium dipergunakan untuk pengobatan yang bersifat sementara seperti:

- prolaps dengan kehamilan

- prolaps dalam puerperium

- prolaps dengan decubitus ulcul: dipasang pessarium terlebih dahulu sampai ulcul sembuh kemudian dilakukan terapi operasi.

5. MIOMA UTERUS

Menurut letaknya mioma dapat kita bagi menjadi 3 yaitu :

  1. Mioma submukosum

Berada dibawah endometrium dan menonjol kedalam rongga uterus dan dapat tumbuh bertangkai menjadi polip, kemudian dilahirkan melalui saluran serviks (myomgeburt)

  1. Mioma intramural

Mioma terdapat didinding uterus di antara serabut miometrium.

  1. Mioma subserosum

Apabila tumbuh keluar dinding uterus sehingga menonjol pada permukaan uterus, diliputi oleh serosa. Pada mioma ini dapat tumbuh di antara kedua lapisan ligamentum latum menjadi mioma intra ligamenter dan dapat pila menempel pada jaringan lain misalnya ke ligementum atau omentum dan kemudian membebaskan diri dari uterus, sehingga disebut wandering/parasitic fibroid.

Mioma jarang sekali ditemukan satu macan mioma saja dalam satu uterus. Dengan pertumbuhan mioma dapat mencapai berat lebih dari 5 kg. Mioma juga jarang sekali ditemukan pada wanita berumur 20 tahun, paling banyak pada umur 35-45 tahun dan sering ditemukan pada wanita nullipara atau yang kurang subur. Faktor keturunan juga memegang peran. Perubahan sekunder pada mioma uteri yang terjadi sebagian besar bersifat degenerasi, hal ini disebabakan karena berkurangnya pemberian darah pada sarang mioma.

Komplikasi

a. Degenerasi ganas

Keganasan umumnya baru ditemukan pada pemeriksaan histologi uterus yang telah di angkat. Kecurigaan akan keganasan uterus apabila mioma uteri apabila mioma uteri cepat membesar dan terjadi pembesaran sarang mioma dalam menopause.

b. Torsi (putaran tungkai)

Sarang mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi, timbul gangguan sirkulasi akut sehingga mengalami nekrosis. Dengan demikian terjadilah sindrom abdomen akut.

Tanda dan gejala

1. Perdarahan abnormal

2. Nyeri lokal

3. Nyeri tekan pada palpasi

4. Demam ringan

5. Leukositosis sedang

6. Degenerasi merah/karneosa

7. Polliuri

Pengaruh mioma pada kehamilan dan persalinan

  1. Mengurangi kemungkinan hamil
  2. Kemungkinan abortus bertambah
  3. Kelainan letak janin dalam rahim
  4. Menghalangi jalan lahir
  5. Inersia uteri dan atonia uteri
  6. Sulit lepasnya plasenta

Pengaruh kehamilan dan persalinan pada mioma

  1. Tumor tumbuh lebih cepat akibat hipertensi dan edema terutama dalam bulan-bulan pertama, mungkin karena pengaruh hormonal.
  2. Tumor menjadi lebih lunak, dapat berubah bentuk dan mudah terjadi gangguan sirkulasi didalamnya. Tumor tampak merah disebut degenerasi merah atau tampak seperti daging disebut degenerasi daging
  3. Torsi pada mioma subserosum yang bertangkai. Torsi ini dapat menyebabkan nekrosis dengan gambaran akut abdomen.

Diagnosis.

Diagnosis mioma uteri dalam kehamilan biasanya tidak sulit, walaupun kadang kadang terjadi kesalahan. Kehamilan kembar, uterus didelfis, tumor ovarium dapat menyesatkan diagnosis.

Penanganan

Pada umumnya tidak dilakukan operasi untuk mengangkat mioma. Bila degenerasi merah maka diambil sikap koservatif dengan istirahat baring dan kontrol yang ketat. Bila mioma menghalangi jalan lahir harus dilakukan SC. Pengangkatan secepat-cepatnya setelah 3 bulan postpartum .

6. KANKER RAHIM

Kanker rahim yang sering dijumpai:

1. Kanker leher rahim ( karsinoma servisis uteri)

2. Kanker korpus rahim ( karsinoma korpus uteri)

Kanker pada umumnya, dan kanker rahim pada khususnya, memberikan pengaruh tidak baik kepada kehamilan begitu pula sebaliknya.

Pengaruh kanker rahimpada reproduksi:

§ Kemandulan

§ Abortus

§ Menghambat pertumbuhan janin

§ Kelainan pada persalinan

§ Perdarahan dan infeksi

Penanganan: tindakan bergantung pada umur, paritas, tua kehamilan dan stadium kanker.

* Wanita yang relatif muda dan hamil tua dengan kanker stadium dini dapat melahirkan janin secara spontan.

* Dalam triwulan I dijumpai kanker leher rahim, dilakukan abortus buatan, kemudian diberikan pengobatan radiasi.

* Dalam triwulan II kehamilan, segera dilakukan histerektomi untuk mengeluarkan hasil konsepsi, kemudiaan diberikan dosis penyinaran.

* Wanita relatif muda yang masih mendambakan tambahan anak dengan kanker leher rahim, dilakukan konisasi atau amputasi portio kemudian dikontrol dengan baik. Bila anak cukup sebaiknya dilakukan histerektomi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar